07 July 2014

Zun-Nun Al-Misri

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang masyhur bernama Zun-Nun. 

Seorang pemuda mendatanginya kepada Zun-Nun Al-Misri dan bertanya.

Tuan, saya belum faham mengapa orang seperti anda mesti berpakaian seperti ini, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman ini berpakaian baik amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain. Zun-Nun Al-Misri hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata.

"Wahai Sahabat ku, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar . , bolehkah kamu menjualnya seharga satu keping emas”.

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu dan berkata

Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini boleh dijual dengan harga itu.

Cubalah dulu sahabat ku. Siapa tahu kamu berhasil, jawab Zun-Nun.

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ialu menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali kepada Zun-Nun dan memberitahunya ..

Tuan, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.

Sambil tersenyum arif Zun-Nun berkata.

Sekarang pergilah kamu ke kedai emas di belakang jalan ini. Cuba perlihatkan kepada pemilik kedai atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian.

Pemuda itu pun pergi ke kedai emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ialu kemudian memberitahu.

Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berkata.

Itulah jawapan atas pertanyaanmu tadi sahabat ku. Seseorang tak boleh dinilai dari pakaiannya. Hanya pada pedagang mata zahir.pedagang Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya dapat dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk meneroka di alam kebatinan. Dan itu perlu proses dan masa, wahai sahabat ku. Kita tak dapat menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas pandang. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.

Kebaikan orang‐orang hasanah adalah kekejian bagi orang muqarrabin.

Dari kacamata zulmat tidak sama dengan kacamata Arifin

Cukup sekadar kita husnuzhon (bersangka baik)..kerana orang yang husnuzhon pada Ahlullah dapat makfirah Allah..dan mereka ini mendapat syafaat Rasulullah saw..

Banyak pada hari ini pandai bermadah-madah. bicara kan hal agama.
tapi sayang tidak ada perlaksanaan agama dalam diri nya..

Allah menganugerahkan ilmu agama terhadap kita supaya menilai keaiban diri sendiri..bukan suruh menilai keaiban orang lain..barulah mendapat rahmatul Alamin..inilah matlamat perjuangan orang2 soleh..

Semoga kita boleh mengambil manfaat dari membaca cerita ini insyaallah wahai sahabat ku yang diredhai Allah swt..

sumber: gambar dari facebook

No comments: