30 June 2010

Sejenak gelintar mencari diri dalam kepayahan

Kadang-kadang, racun yang disangkakan bisa itulah penawar, walaupun ketika saat ia mengalir terasa amat memijar dan membusungkan kepala.

Jatuh. Bangun. Jatuh semula. Bangun kembali. Kalau diukur dengan akal yang sempit diri terasa seakan tak lebih daripada menjadi wayang yang digerak sekadar untuk menghiburkan penonton dan Tok Dalang. Sedangkan itulah kitaran yang menjadi pengukur sedalam mana lubuk keimanan dan ketakwaan.

Zion yang teguh di dasar lautan tak seteguh hati sapien yang berjiwa kerdil, yang rapsodi ketika tangan menyuap manna di ke dalam mulut, dan semudahnya rawan menghaburkan nista saat  dugaan singgah sebentar.

Panas sekelumit bara, panas lagi Jahannam. Tak siapa mampu mendepani Zabaniah, andai di gelanggang fana terbentang di depan mata segala janji dan peringatan yang diberi.

Berikanlah aku kekuatan Ya Rabb, sesungguhnya akulah hamba Mu yang lemah. Tidak ada Tuhan yang benar di sembah hanya Engkau ya Allah, Maha Suci Engkau aku adalah orang yang membuat zalim atas diriku.

1 comment:

diyah_Noh said...

phew...i like with this abstract entry! Keep it up!